Tampilkan postingan dengan label Straight news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Straight news. Tampilkan semua postingan

Pertaruhan, Kuliah Yang Efektif


Kegiatan para remaja cukup bervariasi dan banyak sekali ada kegiatan positif maupun negatif yang dilakukan. Seperti halnya yang dilakukan oleh para mahasiswa. Selain  melakukan kegiatan utamanya yaitu kegiatan akademis. Para mahasiswa pun melakukan kegiatan yang lainnya untuk menunjang sebuah prinsip hidup yang mereka lakukan. Walaupun kegiatan itu ada yang positif maupun negatif.

            Bisa diambil contoh untuk memperbanyak sebuah pertemanan mahasiswa melakukan kegiatan untuk kumpul bersama teman-temannya. Meskipun kegiatan itu hanya bercanda ria atau kegiatan itu dilakukan untuk penunjang prestasi akademisnya di kampus. 

            Seperti halnya pergaulan yang terjadi ditengah-tengah mahasiswa ngopi di malam hari hingga larut malam. beberapa mahasiswa melakukannya untuk mengisi waktu luangnya. Biasanya ngopi ini dilakukan oleh para mahasiswa. Namun, sesuai dengan keadaannya banyak juga para mahasiswi. Dan bahkan kegiatan ngopi ini dilakukan hingga larut malam. Tidak menutup kemungkinan juga bisa sampai dilakukan hingga pagi hari. 

Pertanyaannya apakah kegiatan ini efektif dilakukan oleh para mahasiswa. Yang secara strata di masyarakat adalah seorang akademisi yang mampu bermanfaat untuk orang lain?

Apakah efek ini juga tidak berimbas pada saat perkuliahan dilakukan. Kegiatan ini membuat perkuliahan tidak efektif. Misalnya, jika mahasiswa melakukan ngopi hingga larut malam kemungkinan mahasiswa akan kurang tidur. Akhirnya, berimbas juga pada saat kuliah mahasiswa akan tidur di ruangan perkuliahan.

Lain halnya jika pada saat ngopi para mahasiswa melupakan tugasnya menjadi seorang akademisi. Bisa dikatakan mahasiswa tidak mengerjakan tugasnya sebagai akademisi. Kuliah hanya sekedar masuk mengisi absensi terus jika sudah selesai langsung pulang. Hal itu pasti akan terjadi karena pada saat ngopi pun hanya membuat kesenangan sendiri. Dan melupakan tugasnya sebagai mahasiswa. Bisa dipastikan nilai yang didapat akan mengalami fluktuatif. Karena tidak konsistennya pada saat kuliah. Dan bisa dipastikan juga mahasiswa itu tidak mendapat ilmu yang diajarkan saat perkuliahan berlangsung.

Lebih parahnya lagi jika mahasiswi ikut ngopi juga dan hingga larut malam. Pasti banyak persepsi buruk oleh orang lain pada seorang mahasiswi. Apalagi mahasiswi  melakukan ngopi hingga larut maam bersama seorang laki-laki yang bukan muhrimnya. Bisa membuat mahasiswi itu dianggap sebelah mata atau disebut perempuan gampangan. Efek buruk yang terjadi pada saat ngopi hingga larut malam sangat merugikan mahasiswa khususnya oleh mahasiswi.

Meskipun ada beberapa kemanfaatan yang diperoleh dari segelas kopi, seperti halnya yang dituliskan pada website http://health.okezone.com . dalam sebuah artikel ini ada beberapa manfaat dari kopi yaitu seperti kopi dapat mencegah batu empedu,kopi mengurangi tingkat depresi, kopi tingkatkan memori, kopi tingkatkan metabolisme tubuh, kopi kurangi risiko Parkinson, Antioksidan dalam kopi melebihi sayur & buah, Kopi tingkatkan stamina.

Namun ada juga hal negatif yang ditimbulkan oleh segelas kopi. Hal ini dituliskan pada forum di internet. Forum itu memberikan sebuah artikel tentang bahaya meminum segelas kopi jika berlebihan. Disebutkan bahwa 100 miligram kafein (sekitar secangkir kopi) dapat meningkatkan laju metabolisme 3-4 persen. Dalam Reader’s Digest edisi Desember 1994, diberitakan bahwa wanita yang mengonsumsi 300 mg kafein setiap harinya memiliki kesempatan 27 persen lebih rendah untuk hamil dibandingkan dengan mereka yang terbebas darinya. 

Dalam sebuah kesimpulan laporan lain disebutkan, wanita yang mengonsumsi 5-7 gr kafein per bulan (setara dengan dua cangkir kopi per hari) memiliki kemungkinan dua kali lipat terkena endometriosis dari pada yang tidak mengonsumsi kafein.

            Apakah para pembaca masih ingin melakukan kegiatan ngopi ini dilakukan secara berlebihan. Bahkan, sampai larut malam dan secara terus menerus. 

Solusi untuk mahasiswa dalam permasalahan ini. Khususnya harus dari kesadaran para mahasiswa dan mahasiswi untuk mencapai cita-cita awal saat masuk kuliah. Tidak ketinggalan juga kesadaran diri untuk merubah hal-hal yang tidak bermanfaat bagi penunjang perkuliahan. Jika tidak maka perkuliahan yang efektif dipertaruhkan. Maka seharusnya para mahasiswa membuktikan bahwa bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

Pondok Pesantren Outlook di IAIN Surabaya


Di tengah-tengah aktifnya perkuliahan dan suasana demo yang masih tersisa, IAIN Sunan Ampel Surabaya kali ini menggelar acara bazar yang dinamakan “Pondok Pesantren Outlook”. Yang mana pembukaan acara ini diselenggarakan pada tanggal 19 februari 2013 di lapangan IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan akan berakhir pada tangal 23 Maret 2013. 

Acara ini sudah dilaksanakan setiap tahun. Dan tempat untuk menyelenggarakannya selalu bergilir. Untuk tahun ini, IAIN Sunan Ampel Surabaya mendapat kesempatan bekerjasama dengan Pondok Pesantren Outlook. Pondok Pesantren Outlook ini rencananya akan dihadiri oleh DR Syaikh Muhammad Ismail Zain. 

Tujuan adanya acara ini adalah untuk mempamerkan karya budaya Indonesia Expo 2013, pelatihan Entrepreneurship, dan Pondok Pesantren Outlook Disscusion. Terdapat pula berbagai kompetisi diantaranya, Hafalan Al-Qur’an  jus 1-10, sholawat Al-Banjari dan Rebana, serta musik religius. Bahkan terdapat stand-stand yang tertata rapi dengan berbagai aneka macam barang yang diperjual belikan. Mulai dari baju, jilbab, aksesoris, sepatu, buku-buku, makanan-minuman, ada semua di acara ini. 

Acara ini diikuti oleh semua Pondok Pesantren yang ada di Jawa Timur. Namun, banyak juga stand-stand yang masih kosong belum terisi. Dikarenakan ketidakhadiran semua Pondok Pesantren.
“Saat ini kan musim hujan, jadi banyak Pondok-Pondok Pesantren yang lokasinya jauh, tidak datang di acara ini,”  ujar salah satu mahasiswa jurusan SPI yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. 

Dari berbagai macam stand yang ada, ternyata mahasiswa IAIN juga turut berpartisipasi dalam acara ini. Dibuktikannya dengan adanya stand yang diisi oleh IAIN,  LPM Solidaritas, dan Ambisi. “Mahasiswa bidik misi yang membuka stand Ambisi ini, hanya sekedar berpartisipasi. Dan buku-buku yang dijualkan ini didapatkan dari kerjasama dengan penerbit” tutur Rifani mahasiswa BKI dengan logat khasnya berbahasa Madiun yang bergabung dengan stand Ambisi ini.

Bukan hanya dari kalangan mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Pondok-Pondok Pesantren se-Jawa Timur  yang mengikuti acara ini, tapi kalangan masyarakat juga ikut membuka stand diacara ini. Namun, selain lingkup IAIN Sunan Ampel Surabaya, masyarakat yang mau membuka stand dikenakan tarif sewa. “Butuh dana 2 juta untuk membuka stand di sini, hingga acara usai” Ujar Bu Lilik warga Kebonsari salah satu penjual aksesoris di stand acara ini.

Penutupan acara pada 23 Maret 2013, akan dihadiri oleh DR Syaikh Muhammad Ismail Zain langsung dari Makkah untuk memimpin pengajian, “yang pada pembukaan acara beliau tidak dapat hadir, dikarenakan tiket pesawat yang tak didapatnya”.Ujar mahasiswa Fakultas Adab yang menjaga stand kaligrafi.

Mahasiswa IAIN pun antusias dengan diadakannya Outlook Pesantren ini. Terbukti dengan ramainya stand-stand yang didatangi oleh para mahasiswa. Sebut saja Ana, ia sangat senang dengan adanya acara ini, “apalagi ada lomba-lomba seperti banjari tadi malam, sangat menghibur”, tuturnya dengan ceria. 

“Dan berharap acara ini akan terulang lagi tahun depan, karena kita sebagai mahasiswa yang ikut berpartisipasi, juga mendapatkan keuntungan dengan menjual hasil karya kita seperti bros, dan bagi hasil dengan penerbit yang bukunya ikut dijual dalam stand kami”, tegas Sri mahasiswa Sosiologi yang ikut menjaga stand Ambisi.


Kurangnya Fasilitas Hotspot di IAIN

Fasilitas hotspot area di IAIN Sunan Ampel Surabaya kurang merata dan sulit di jangkau untuk para mahasiswa.

    IAIN Sunan Ampel Surabaya, jum’at 15 Maret 2013. Fasilitas di IAIN yang berupa hotspot atau dikenal dengan wi-fi yang kurang optimal. “Dimana, tempatnya kurang”, ujar Wulatul Maslikah, mahasiswa syari’ah. Dia menuturkan bahwasanya jaringan internet di IAIN sungguh “lemot”.

      Adapun mahasiswa yang mengatakan hal serupa. IAIN hotspot area sangat dibatasi, khususnya di area Gedung Pasca Sarjana dan di selatan Pesantren Mahasiswa, untuk mengaktifkan wifi, di tempat itu terdapat password tersendiri, “dan terkadang para mahasiwa IAIN tidak mau memberitahu passwordnya”, ungkap Airin mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi. Mahasiswa IAIN juga mengeluh di karenakan kurang maksimalnya pemakaian hotspot oleh Institut.

            Dari pihak Institut pun terkesan acuh terhadap fenomena tersebut dan tidak adanya tindak lanjut lagi terhadap kelangsungan wifi bagi mahasiswa. Para mahasiswa, khususnya yang sedang mengerjakan tugas akhir (skripsi), menyesalkan akibat kurangnya respon dari pihak Institut terkait pemasangan hotspot di area kampus. Mereka susah untuk mencari referensi dari internet karena fasilitas wifinya.
            Tugas yang harus segera di kumpulkan pun sulit untuk diselesaikan di kampus, karena keterbasan dari fasilitas kampus itu sendiri. Di semua area kampus, wifi yang ada tidak dapat di andalkan. Bahkan salah satu mahasiswa menuturkan “jika di kampus lain mahasiswanya cukup membawa laptob jika ke kampus, beda dengan mahasiswa IAIN yang juga harus membawa modem, karena wifinya yang tidak berfungsi optimal.Para mahasiswa hanya bisa menunggu kebijakan dari rektorat agar hotspot area di area kampus IAIN  Surabaya dapat berfungsi dengan maksimal. (dik,gta)

Kebebasan Kost Mahasiswa




Aturan yang telah dibuat oleh pemilik kost kini tidak ada gunanya lagi. Seorang mahasiswa merasa bebas keluar masuk kost kapan saja. Tanpa menyadari bahwa yang dilakukan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Mahasiswa bukanlah seorang siswa lagi. Kini mahasiswa merasa seperti burung yang dilepas dari sangkarnya. Dunia bebas kini telah meracuni pergaulan mahasiswa IAIN yang identik dengan keislamannya. Keislamannya seakan-akan telah pudar, tak terlihat lagi kealiman mereka. Tak sedikit mahasiswa yang akidahnya rusak karena pengaruh pergaulan  yang dewasa ini semakin kacau. 

“Aku bukan lagi seorang siswa yang biasa dikendalikan oleh suatu aturan-aturan yang membatasi kebebasanku dalam bergaul. Kini aku telah dewasa menjadi mahasiswa yang tidak ingin dikekang oleh aturan-aturan seperti masa laluku.” Ujar Dini salah satu mahasiswa penghuni kost daerah Wonocolo.

Pengaruh tekhnologi merupakan salah satu penyebab yang melatarbelakangi sikap dan tingkah laku seorang mahasiswa. Berawal dari kemajuan teknologi yang semakin maju, pola berpikir mereka juga semakin maju, seperti situs jejaring sosial yang semakin canggih dan marak dikalangan pemuda.
 “Bagiku di jaman seperti ini tanpa teknologi seperti hp rasanya kamseupay”. Ucap Reni jurusan Menejemen Dakwah.

Selain faktor tersebut, dunia malam juga menjadi penyebab seperti semakin banyaknya tempat nongkrong yang banyak di Surabaya. Tak jauh dari kampus IAIN, tempat tersebut  telah tersedia di depan kampus. Tepatnya depan lapangan parkir JX Internasional yang biasa digunakan untuk nongkrong

Dalam tongkrongan mereka biasa diisi dengan canda tawa dan ngopi  bareng teman-teman ataupun pacar, tetapi ada juga yang menggunakan tempat itu untuk berdiskusi. Sebagaian dari orang-orang itu ada yang pulang sampai larut malam. Namun untuk yang mengerti waktu mereka tidak seperti itu.
Untuk para penghuni kost yang pulang larut malam mereka berdalih hanya sekedar nongkrong dan ngopi saja. “Disini memang tempat berkumpul sama temen-temen yang enak dan tidak jauh dari tempat kost, serta tidak menggeluarkan biaya untuk transportasi. Kalau nongkrong di Taman Bungkul, terlalu jauh dari kost”, kata Ervan salah satu mahasiswa yang suka nongkrong di tempat tersebut.

Keluh pemilik kost
Sementara itu aturan-aturan yang dibuat oleh pemilik kost banyak yang dilanggar oleh penghuninya. Seperti waktu yang ditentukan maksimal pukul 22.00 pintu gerbang telah ditutup, namun nyatanya banyak yang melanggar. Mereka rata-rata pulang diatas pukul 24.00 dan diantar seorang laki-laki.
“saya sudah capek mengingatkan mereka dengan aturan dan ucapan, tapi mereka tak menghiraukannya. Mereka adalah seorang mahasiswa yang tak selayaknya mereka bersikap seperti itu”, ungkap ibu kost yang tinggal di Wonocolo. 

Di kost tersebut pernah terjadi kejadian yang tak selayaknya ada. Seperti penghuni kost yang kini pindah dari tempat itu. Sebut saja Eka, mahasiswa Tarbiyah. Sebelumnya pernah membawa laki-laki ke tempat kost dengan berdalih laki-laki dari jakarta yang tidak mempunyai tempat tinggal di Surabaya. Mereka ketahuan salah satu RT yang ada di tempat tersebut, kemudian langsung melaporkan kejadiannya itu ke pemilik kos. Eka memang yang biasa keluar tanpa mengenakan jilbab sehingga orang-orang menganggapnya sebagai anak nakal. Kini dia mengambil jalan tidak meneruskan kuliahnya. 
 (Vik/Lu)


 








Mahasiswa Lebih Sibuk Nongkrong


 Gaya hidup mahasiswa kini telah membuat tujuan utama untuk menuntut ilmu mulai luntur. Tak jarang julukan mahasiswa yang sibuk nongkrong dibandingkan sibuk dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah kini telah melekat. Tugas-tugas kuliah terbengkalai, sering bolos kuliah, dan semua itu nantinya akan berpengaruh terhadap nilai IPK mereka.
 
Tujuan utama seorang mahasiswa yaitu belajar, mereka mengklaim bahwa belajar adalah suatu yang membosankan. Salah satunya dengan membolos kuliah mereka bisa terhindar dari kebosanan yang kadang menghampiri para mahasiswa. Mahasiswa seharusnya belajar jika ada waktu luang. Tapi kenyataanya banyak mahasiswa yang meluangkan waktu luangnya untuk  asik nongkrong dan jalan-jalan  ke mol. Kenyataan ini tak dapat dipungkiri lagi. Tidak hanya Mahasiswa laki-laki namun juga mahasiswa perempuan.

Mahasiswa laki-laki sering memanfa’atkan waktu senggangnya untuk nongkrong di warung kopi. Apabila mereka yang lagi asik ngopi dan berbincang-bincang dengan teman-temannya pasti mereka malas untuk kembali ke kampus lagi dan pada akhirnya mereka membolos kulih.  Walaupun ada juga yang tetap datang ketika ada jam kuliah tapi akhir-akhirnya telat. Mahasiswa yang seperti ini tak jarang terlihat bingung dalam mengerjakan tugas dan telat mengumpulkan tugas.  

Salah satu mahasiswa psikologi kelas G1 menuturkan bahwa ngopi dan nongkrong sebenarnya sebagai sebuah kebiasaan yang paling disuka kebanyakan laki-laki. Namun langsung berhubungan dengan proses belajar saya,  “kenyataannya ngopi dan nongkrong membuat nilai akademis saya semakin menurun”, ujarnya pada wartawan New News.

Berbeda dengan mahasiswa laki-laki yang meluangkan waktu luangnya untuk nongkrong di warung kopi. Mahasiswa perempuan yang terkesan selalu memperhatikan fashion, mereka meluangkan waktunya untuk jalan-jalan ke mol. Banyak dari mereka disana hanya sekedar jalan-jalan melihat baju-baju, sepatu, dan accesories, makan-makan, dan nonton film saja.

Ada juga yang lebih sering pergi ke Mall untuk berbelanja, biasanya yang mereka cari adalah pakaian dan accessories. Semua itu dilakukan untuk menunjang penampilan mereka dalam hal berbusana. “Penampilan jelas penting, karena seseorang dapat dinilai dari penampilannya,” ujar Dyah, mahasiswi semester dua jurusan psikologi.

Menurut Andriani salah satu mahasiswa yang saat ini masih semester dua jurusan ekonomi syari’ah, menyatakan bahwa jalan-jalan ke mol adalah suatu kebutuhan  yang harus dipenuhi. Karena dengan jalan-jalan ke mol saya bisa menyegarkan otak, setelah menjalani jadwal kuliah yang padat.

Sementara itu banyak juga mahasiswa laki-laki dan perempuan yang mengisi waktu luangnya untuk pergi ke perpustakaan. Mereka tidak setujuh jika pergi nongkrong di warung kopi dan  jalan-jalan ke mol sebagai suatu kebutuhan mahasiswa.

“ Menurut saya, jika mahasiswa yang melungkan waktunya ketika menunggu jam kuliah untuk sekedar jalan-jalan ke mol sangat tidak pantas. Karena jika waktu luang hanya digunakan untuk pergi jalan-jalan ke mol waktu akan terbuang sia-sia dan saya tidak akan mendapat manfa’at untuk sesuatu yang menunjang proses belajar saya,” ujar mahasiswa yang biasa di panggil lia.

Hal senada juga diungkapkan Fa’izatul lailya, mahasiswa jurusan psikologi in juga menambahkan bahwa selama ini mahasiswa yang sering meluangkan waktunya untuk  jalan-jalan ke mol dan nongkrong itu bukan suatu kebutuhan, tapi itu keperluan yang sudah menyatu dalam kebiasaan kita.
Lingkungan juga sangat berpengaruh dalam kehidupan, terutama di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya yang berada di kota metropolitan. Hampir semua fasilitas dan kebutuhan terpenuhi di kota ini. Masyarakat dimanjakan dengan pusat-pusat perbelanjaan dan banyaknya tempat hiburan, termasuk mahasiswa.

Karena banyak mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya berasal dari luar kota, biaya pengeluaran yang dibutuhkan untuk berbelanja atau nongrong juga sepenuhnya dari keluarga. Mereka jauh dari pengawasan orang tua maupun keluarga, sehingga terkesan bebas dalam mengolah biaya kehidupan mereka. Ini membuat pengeluaran semakin banyak demi mementingkan penampilan dan gaya hidup. (22/03)

                                                                                                                        (LEN/FIR)

                                               

Proses Pembangunan Gedung Dakwah Macet

Gedung fakultas dakwah yang dijajnjikan akan selesai pada bulan desember 2012, hingga kini tak kunjung selesai. Bisanya kuli bangunan yang berlalu-lalang mengerjakan proyek pembangunan di wilayah gedung dakwah, kini sudah tidak terlihat lagi. Keadaan gedung kini sepi, tidak ada aktifitas yang terjadi dalam proses pembangunan. Yang terlihat hanya aktifitas karyawan dan mahasiswa yang berkuliah. Setelah diamati beberapa bulan ini, ternyata para pekerja telah pulang ke kampungnya masing-masing.

Kini mahasiswa yang seharusnya mempunyai fasilitas yang layak, tapi kenyataanya tidak. “Bagaimana proses belajar bisa berjalan dengan maksimal, jika kelas yang digunakan belum sempurna”, ujar Zainuri.

Mahasiswa semester dua ini juga menambahkan kelas yang dihuni untuk kuliah di fakultas dakwah belum layak untuk digunakan, kiranya harus ada kelanjutan perbaikan sampai benar-benar selesai.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ani Harianti, wanita bertubuh kurus ini juga mengungkapkan kurangnya kesiapan pihak akademik dalam menentukan kebijakan ini. “Karena kita kuliah sampai malam jelas butuh penerangan tetapi lampu hanya terpasang sebagian”, tambah dia.

Lanjut dia, Proses pembelajaran mahasiswa fakultas dakwah hingga kini belum terkondisikan. Mahasisiwa banyak yang mengeluhkan perkuliahan yang masih menggunakan gedung dari fakultas lain.

Kalau berbicara masalah gedung dakwah yang tak kunjung selesai, pasti kita mengarah pada uang. Ketika ditanya ke salah satu kuli bangunan ia mengatakan bahwa alasan mereka tidak mengerjakan proyek ini lagi karena bahan material bangunan tidak ada.

workshop Communication Entrepreneur

Gedung Wisma Bahagia IAIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu 20 Maret 2013. Dalam memperingati Disnatalis Ilmu komunikasi yang ke-13 diadakan acara workshop Communication Entrepreneur, lomba Social Entrepreneur, Communication Exhibition, dan Launching De Photograph.

Kemudian untuk memeriahkannya, tanggal 21 Maret 2013 juga diadakan Donor Darah terbuka yang diikuti oleh seluruh Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Peserta workshop dan lomba entrepreneur fair yang dimulai dari pukul 08.00.

Mereka mengangkat tema Communication Entrepreneur Fair. Acara workshop sendiri dihadiri oleh Ibu Dr. Sri Astutik, selaku Pembantu Dekan I, Ibu Dr. Nikmah Hadianti, selaku Sekretaris prodi Ilmu Komunikasi, Bapak Mufat, selaku koordinasi Lapangan Ilmu Komunikasi, dan Bapak Dekan Fakultas Dakwah yaitu Aswadi Suhada. 

Adapun acara workshop Communication Entrepreneur, mereka mengundang Dr. Ir. H. Dwi Candra Triono, Phd dan Ari Prasetyo, SE. M.Si sebagai pembicara. 

Para mahasiswa Ilmu Komunikasi begitu antusias dalam menerima materi workshop yang mereka sampaikan, “Takdir itu usaha semaksimal mungkin”, ungkap Dr. Ir. H. Dwi Candra Triono, Phd sebagai praktisi entrepreneur dan pengarang buku bestseller Ilmu Retorika Mengguncang Dunia. 

Dia juga menuturkan bahwasanya Indonesia telah dijajah oleh orang barat berupa selembar uang. Yang mana uang di negara Barat apabila di kurs-kan di dalam Indonesia, maka nilai tukarnya semakin tinggi. Oleh karena itu, setiap mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya harus bisa berentrepreneurship agar mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

Acara yang digagas itu dilanjutkan dengan lomba Social Entrepreneur yang diikuti oleh para mahasiswa dari semester II, IV, dan VI. Mereka mempresentasikan hasil proposal entrepreneurnya dan diuji oleh dewan juri. Tak lupa juga Launching De Photograph yang pengumuman pemenangnya mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 200.000. Acara pun tak berhenti sampai disini, pada tanggal 21 maret 2013 akan dilanjutkan acara Donor Darah terbuka secara gratis.
 (/dik)